Rabu, 09 April 2014

Laporan Mikrobiologi Umum - Hitungan Cawan



PRELAB
1.      Jelaskan prinsip dari metode hitungan cawan !
Prinsip dari metode hitungan cawan adalah jumlah mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk menghitung jumlah mikroba (Fardiaz, 1992).

2.      Apakah metode hitungan cawan dapat menghitung jumlah sel? Menurut anda mengapa demikian? Jelaskan!
Metode hitungan cawan ini dapat menghitung  jumlah sel, karena prinsip dari metode hitungan cawan sendiri adalah menghitung jumlah koloni mikroba yang telah dibiakkan yang bisa dilakukan tanpa bantuan mikroskop. Dalam metode ini hanya sel yang masih hidup saja yang dapat dihitung, beberapa jenis mikroba juga dapat dihitung sekaligus serta dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba, karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari suatu mikroba yang mempunyai penampakan pertumbuhan secara spesifik. Namun hasil perhitungan tidak selalu menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karena sel yang berdekatan kemungkinan membentuk koloni (Fardiaz, 1992).

3.      Apakah yang dimaksud dengan metode pour plate dan spread plate pada hitungan cawan? Jelaskan!
a.       Metode pour plate
dilakukan dengan cara menuangkan kultur ke dalam cawan petri bersama dengan media yang sudah disterilkan dan diturunkan suhunya. Metode pour plate ini mempunyai kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang lama dan bahan yan grelatif banyak tetapi tidak memutuhkan keterampila tinggi
b.      Metode spread plate
dilakukan dengan menyemprotkan suspensi ke atas medium agar kemudian menyebarkannya secara merata dengan trigalski. Dengan ini diharapkan bakteri terpisah secara individual, kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal
(Fardiaz, 1992).

DATA HASIL PERCOBAAN

Sampel
Bahan Pangan

Media

Jumlah koloni pada media *)
Pour Plate
Spread Plate
Pengenceran
Jumlah koloni
Pengenceran
Jumlah koloni
Pengenceran
Jumlah koloni
Pengenceran
Jumlah koloni
10-3
10-4
10-5
10-4
10-5
10-6
10-3
10-4
10-5
10-4
10-5
10-6
Kubis
NA
7
8
303
3 x 107 CFU/ml




3
0
263
2,6 x 108 CFU/ml




MRSA
2
0
1
2 x 103 CFU/ml




0
0
0
0 CFU/ml




Ikan
NA
237
480
104
2,4 x 105 CFU/ml




592
138
29
1,4 x 107 CFU/ml





SSA
28
10
1
2,8 x 104 CFU/ml




5
6
16
5,4 x 105 CFU/ml




Bakso
PCA




1164
297
472
3 x 107 CFU/ml




310
152
684
1,5 x 108 CFU/ml
VRBA




0
TBUD
1
1 x 106 CFU/ml




3
37
1
3,7 x 107 CFU/ml


PEMBAHASAN



1.      Tuliskan tahapan dan cara perhitungan anda untuk mendapatkan jumlah koloni pada masing-masing sampel !



1.1 Analisa prosedur
a.       Sampel kubis
Pada percobaan menggunakan sampel kubis, pertama menyiapkan alat dan bahan antara lain cawan petri yang sudah terisi media NA dan MRSA, 4 tabung reaksi yang sudah berisi pepton 9 ml yang sudah disterilisasi, mikrotip ukuran 1 ml dan 0,1 ml, mikro pipet, spreader, bunsen, korek api dan kubis. Sebelum melakukan percobaan hendaknya melakukan aseptis diri lingkungan dan alat-alat yang digunakan, untuk mencegah masuknya kontaminan pada sampel. Selanjutnya kubis dipotong dengan ukuran 2 x 2.5 cm. Selanjutnya dimasukkan kedalam pepton steril 25 ml dan diaduk-aduk hingga seluruh bagian kubis tercelup sempurna, sehingga mikroba yang ada pada kubis dapat tersebar dalam pepton. Selanjutnya diencerkan hingga pengenceran 10-5 kemudian di vorteks. Selanjutnya tiga pengenceran terakhir ditanam pada media NA dan MRSA dengan metode spread plate dan pour plate, setiap akan ditanam, harus di vorteks terlebih dahulu supaya mikroba dapat tersebar merata. Dalam sampel ini menggunakan media NA dan MRSA karena media NA digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Sedangkan media MRSA digunakan dapat menumbuhkan dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari seluruh jenis bahan dan bersifat diferensial dalam artian suatu jenis mikroba tumbuh dengan pesat, sementara jenis mikroba yang lain terhambat. Selanjutnya diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 300C. Kemudian dihitung jumlah koloni per ml atau SPC dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan.

b.      Sampel ikan
Sebelum memulai praktikum hendaknya terlebih dahulu melakukan aseptis diri, lingkungan dan alat yang akan dilakukan selama praktikum, untuk mengcegah adanya kontamisi selama praktikum. Pada percobaan menggunakan sampel ikan ini adalah pertama menyiapkan alat dan bahan. Setelah alat dan bahan sudah siap maka langkah selanjutnya adalah batang swap yang sudah disterilisasi dengan pepton dioleskan pada tiga bagian yang berbeda pada sampel ikan. Selanjutnya dimasukkan kedalam pepton tadi dan digojog serta diperas-peras pada dinding tabung, supaya bakteri yang menempel pada swab jatuh pada larutan pepton tersebut. Selanjutnya batang swab dibuang dan tabung yang berisi pepton tadi di vortexs. Selanjutnya diencerkan hingga pengenceran 10-7. Selanjutnya pada tiga pengenceran terakhir ditanam pada media NA dan SSA, sebelum menanam mikroba tersebut dilakukan vorteks terlebih dahulu supaya bakteri tercampur merata. Pada percobaan sampel ini digunakan media NA karena media ini cocok untuk jenis sampel yang mengandung protein dan bersifat umum. Sedangkan media SSA bersifat selektif dalam artian suatu jenis mikroba tumbuh dengan pesat, sementara jenis mikroba yang lain terhambat dan dapat mengidentifikasi bakteri Salmonella dan Shigella. Selanjutnya diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 280C. Selanjutnya dihitung jumlah koloni per ml atau SPC dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan.

c.       Sampel bakso
Sebelum memulai praktikum hendaknya terlebih dahulu melakukan aseptis diri, lingkungan dan alat yang akan dilakukan selama praktikum. Pada percobaan menggunakan sampel ikan ini adalah pertama menyiapkan alat dan bahan. Setelah alat dan bahan siap maka langkah selanjutnya adalah mengambil sampel padat sebanyak 5 gram dengan pisau atau alat yang memudahkan. Selanjutnya dilarutkan pada 45 ml pepton dan kemudian dimasukkan plastik. Selanjutnya sampel distomacher supaya dapat hancur. Selanjutnya sampel yang sudah hancur diambil 1 ml, untuk memudahkan pengambilan maka mikrotip dipotong miring. Selanjutnya diencerkan hingga pengenceran 10-5. Selanjutnya di platting dengan media PCA dan VRBA, setiap akan ditanam harus di vorteks terlebih dahulu supaya mikroba dapat menyebar. Pada percobaan ini dilakukan dengan media PCA karena PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan dan bersifat umum sehingga semua mikroba dapat tumbuh. Media VRBA digunakan karena media VRBA bersifat selektif hanya bakteri tertentu saja yang dapat tumbuh. Selanjutnya diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 280C. Selanjutnya dihitung jumlah koloni per ml atau SPC dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan.

1.2  Cara perhitungan
a.       Sampel kubis
1.      Media NA pada metode pour plate
SPC =  1/ faktor pengencer x Jumlah koloni
= 1/10-5 x 303
= 3,03 x 107 CFU per ml
= 3 x 107 CFU per ml
2.      Media MRSA pada metode pour plate
SPC =  1/ faktor pengencer x Jumlah koloni
1/10-3 x 2
= 2 x 103 CFU per ml
3.      Media NA pada Spread plate
SPC =  1/ faktor pengencer x Jumlah koloni x 10
1/10-5 x 263 x 10
= 2,63 x 108 CFU per ml
= 2,6 x 108 CFU per ml
4.      Media MRSA pada spread plate
SPC =  1/ faktor pengencer x Jumlah koloni x 10
= 0 CFU per ml

b.      Sampel ikan
1.      Media NA pada metode pour plate
SPC  = 2,37 x 105 CFU per ml
  = 2,4 x 105 CFU per ml
2.       Media SSA pada metode pour plate
SPC = 2,8 x 104 CFU per ml
3.      Media NA pada metode spread plate
SPC = 1,38 x 107 CFU per ml
= 1,4 x 107 CFU per ml
4.      Media SSA pada metode spread plate
SPC = 5,4 x 105 CFU per ml

c.       Sampel bakso
1.      Media PCA pada metode pour plate
SPC = 2,97 x 107 CFU per ml
= 3 x 107 CFU per ml
2.      Media VRBA pada metode pour plate
SPC = 1 x 106 CFU per ml

3.      Media PCA pada metode spread plate
SPC = 1,52 x 108 CFU per ml
        = 1,5 x 108 CFU per ml
4.      Media VRBA pada metode spread plate
SPC = 3,7 x 107 CFU per ml
Pada data hasil percobaan diatas, berdasarkan literatur semakin tinggi pengenceran maka jumlah koloni semakin sedikit. Namun pada percobaan ini jumlah koloni tiap pengenceran bervariasi dan mayoritas menyimpang dari literatur. Kesalahan dalam praktkum kali ini kemungkinan disebabkan oleh terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada sampel yang menggunakan metode pour plate yang dapat tumbuh adalah jenis bakteri anaerob, sedangkan pada mtode spread plate, yang dapat tumbuh adalah jenis bakteri aerob. Setiap media yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung pada jenis sampel yang digunakan. Media NA dan PCA merupakan media yang bersifat umum sehingga bisa menumbuhkan semua jenis mikroba yang ada pada sampel misalnya Staphylococcus aureus yang tumbuh pada media PCA dan E.coli. Media MRSA merupakan media yang digunakan pada sampel kubis dan bersifat selektif diferensial dalam artian hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh seperti bakteri asam laktat dan bakteri jenis Lactobacillus. Media SSA digunakan dalam sampel ikan karena media ini cocok untuk jenis sampel protein, bersifat selektif diferensial sehingga hanya menumbuhkan bakteri jenis salmonella dan shigella yang ada protein. Selanjutnya media VRBA adalah media yang digunakan dalam sampel bakso yang bersifat selektif diferensial dalam artian hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh dalam media ini, seperti bakteri E.coli (Entis, 2005).


2. Bahaslah hasil yang anda peroleh pada masing-masing media untuk satu jenis sampel bahan pangan !



Dari data hasil pengamatan yang diperoleh, dapat diketahui bahwa dalam sampel kubis dengan metode pour plate dan media NA pada pengenceran 10-3 terdapat 7 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 8 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 303 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 3 x 107 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidak sesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Dengan metode pour plate bakteri yang tumbuh adalah jenis bakteri anerob, karena media NA bersifat umum maka semua bakteri an aerob yang ada pada sampel yapat tumbuh, seperti bakteri asam laktat dan E.coli (Entis, 2005). Pada media MRSA pada pengenceran 10-3 terdapat 2 koloni, pada pengenceran 10-4 tidak terdapat koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 1 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 2 x 103 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Dengan metode pour plate yang tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media MRSA bersifat diferensial maka hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh seperti bakteri asam laktat (Entis, 2005). Selanjutnya dengan metode spread plate dan media NA pada pengenceran 10-3 terdapat 3 koloni, pada pengenceran 10-4 tidak terdapat koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 263 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 2,6 x 108 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada media NA dengan metode spread plate, karena media NA bersifat umum jadi semua koloni bakteri yang tumbuh adalah koloni bakteri aerob (Entis, 2005). Pada media MRSA dengan metode spread plate pada pengenceran 10-3,10-4 dan pada pengenceran 10-5 tidak terdapat koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 0 CFU per ml. Jadi pada media ini tidak terdapat jenis bakteri aerob.
Pada sampel ikan dengan media NA dan metode pour plate diperoleh data pada pengenceran 10-3 terdapat 237 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 480 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 104 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 2,4 x 105 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada media NA dengan metode pour plate ini yang tumbuh adalah bakteri anarob seperti Clostridium botulinum dan bakteri asam laktat karena media NA bersifat umum maka semua jenis bakteri anaerob yang ada pada sampel daging ikan dapat tumbuh (Entis, 2005).  Pada sampel ikan dengan media SSA dan metode pour plate diperoleh data pada pengenceran 10-3 terdapat 28 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 10 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 1 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 2,4 x 105 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga sudah sesuai dengan literatur. Pada sampel ikan dengan media SSA dan metode pour plate yang dapat tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media SSA bersifat diferensial maka yang dapat tumbuh adalah bakteri jenis salmonella dan shigella (Entis, 2005). Selanjutnya pada media NA dengan metode spread plate pada pengenceran 10-3 terdapat 592 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 138 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 29 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 1,4 x 107 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga sudah sesuai dengan literatur. Pada sampel ikan dengan media NA dan metode spread plate yang dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena media NA bersifat umum maka semua jenis bakteri aerob yang ada pada sampel bisa hidup. Pada sampel ikan dengan media SSA dan metode pour plate yang dapat tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media SSA bersifat diferensial maka yang dapat tumbuh adalah bakteri jenis salmonella dan shigella (Entis, 2005). Selanjutnya pada media NA dengan metode spread plate pada pengenceran 10-3 terdapat 592 koloni, pada pengenceran 10-4 terdapat 138 koloni dan pada pengenceran 10-5 terdapat 29 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 1,4 x 107 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada sampel ikan dengan media SSA dan metode spread plate yang dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena media SSA bersifat diferensial maka yang dapat tumbuh adalah bakteri jenis salmonella dan shigella (Entis, 2005).
Selanjutnya pada sampel bakso, dengan media PCA dan metode pour plate dapat diketahui dengan pengenceran 10-4 terdapat 1164 koloni, pada pengenceran 10-5 terdapat 297 koloni dan pada pengenceran 10-6 terdapat 472 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 3 x 107 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang dapat tumbuh adalah bakteri anaerob, karena PCA bersifat umum maka semua jenis bakteri anaerob yang ada pada sampel dapat hidup, seperti bakteri jenis Salmonella. Pada media VRBA dengan metode pour plate dapat diketahui dengan pengenceran 10-4 tidak terdapat koloni, pada pengenceran 10-5 terdapat TBUD koloni dan pada pengenceran 10-6 terdapat 1 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 1 x 106 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang dapat tumbuh adalah bakteri anaerob, karena media VRBA bersifat selektif maka yang dapat tumbuh hanya bakteri E.coli. Selanjutnya pada metode spread plate dengan media PCA pada pengenceran 10-4 terdapat 310 koloni, pada pengenceran 10-5 terdapat 152 koloni dan pada pengenceran 10-6 terdapat 184 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 1,5 x 108 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena PCA bersifat umum maka semua bakteri aerob yang ada pada sampel dapat hidup, seperti Staphylococcus aureus (Entis, 2005). Pada metode spread plate dengan media VRBA pada pengenceran 10-4 terdapat 3 koloni, pada pengenceran 10-5 terdapat 37 koloni dan pada pengenceran 10-6 terdapat 1 koloni dan melalui perhitungan sesuai rumus diperoleh hasil 3,7 x 107 CFU per ml. Dalam literatur, semakin tinggi pengenceran maka semakin sedikit jumlah koloni bakteri (Entis, 2005). Sehingga tejadi ketidaksesuaian dengan literatur, kesalahan ini dimungkinkan karena terjadinya human error dan kurang aseptis saat melakukan praktikum sehingga bakteri kontaminan ikut tumbuh. Pada metode ini yang dapat tumbuh adalah bakteri aerob, karena media VRBA bersifat selektif maka hanya bakteri tertentu, misalnya bakteri E.coli (Entis, 2005).

KESIMPULAN


Prinsip dari metode hitungan cawan ini adalah menghitung jumlah koloni mikroba yang tumbuh dan membentuk suatu koloni pada media agar tertentu tanpa bantuan mikroskop. Dimana metode yang digunakan adalah metode spread plate dan pour plate. Sedangkan untuk perhitungan metode hitungan cawan ini dapat menggunakan aturan SPC, dimana jumlah koloni yang dihitung adalah antara 30-300 jumlah koloni. Apabila jumlah koloni lebih dari 300, maka jumlah koloni mikroba bisa ditulis dengan TNTC (Too Numerous to Count) karena dianggap terlalu banyak untuk dihitung, namun apabila diketahui nilainya maka dihitung yang paling mendekati 300. Apabila jumlah koloni kurang dari 30, maka yang diambil untuk perhitungan adalah jumlah koloni yang mendekati 30.
Pada data hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan metode spread plate koloni terbanyak terdapat pada sampel kubis dengan media NA yaitu 2,6 x 108 CFU/ml, kemudian diikuti sampel bakso dengan nilai 1,5 x 108 CFU/ml untuk media PCA dan 3,7 x 107 CFU/ml untuk media VRBA kemudian diikuti sampel ikan dengan media NA yaitu 1,4 x 107 CFU/ml dan yang terendah terdapat pada sampel ikan dengan nilai 5,4 x 105 CFU/ml. Selanjutnya dengan metode pour plate jumlah koloni terbanyak terdapat pada sampel kubis dengan media NA dan sampel bakso dengan media PCA yaitu 3 x 107 CFU/ml, Kemudian diikuti oleh sampel bakso dengan media VRBA yaitu 1 x 106 CFU/ml kemudian diikuti dengan sampel ikan dengan media NA yatu 2,4 x 105 CFU/ml dan pada media SSA yaitu 2,8 x 104 CFU/ml dan yang paling rendah adalah pada sampel kubis dengan media MRSA yaitu 2 x 103 CFU/ml. sehingga dapat disimpulkan bahwa bakteri aerob lebih banyak tumbuh daripada bakteri anaerob.


PEMBAHASAN


1.      Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari metode pour plate dan spread plate. Kapan kita dapat menggunakan metode tersebut? Jelaskan alasan anda!
a.       Metode pour plate digunakan ketika ingin menumbuhkan bakteri anaerob, karena media dituang setelah kultur sehingga menyebabkan kondisi anaerob pada cawan.
Kelebihan:
·         Mudah dilakukan
·         Koloni tersebar merata pada media
Kekurangan:
·         Butuh kehati-hatian dalam menuang ke media
·         Kontaminasi sulit dibedakan
·         Koloni yang berbeda saling bertumpuk
b.      Metode spread plate digunakan digunakan ketika ingin menumbuhkan bakteriaerob, karena media sudah ada terlebih dahulu pada cawan kemudian dituangi kultur sehingga menyebabkan kondisi aerob oada cawan.
Kelebihan:
·         Koloni tersebar merata oada permukaan media
·         Kontaminan mudah dibedakan
Kekurangan:
·         Harus dilakukan dengan hati-hati
·         Hanya dapat menumbuhkan bakteri aerob
(Fardiaz, 1992).

2.      Apa kelebihan perhitungan mikroba dengan metode hitungan cawan dibanding metode enumerasi langsung?
a.       Dapat menghitung sel atau koloni yang masih hidup yang dihitung
b.      Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus
c.       Tidak perlu bantuan mikroskop untuk menghitung mikroba
d.      Ketelitian tinggi apabila dilakukan dengan benar
e.       Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba
(Fardiaz, 1992).

3.      Mengapa yang digunakan dalam aturan SPC hanya koloni yang berjumlah 30-300 saja?
Karena jika jumlah koloni terlalu banyak maka beberapa sel akan membentuk koloni yang dapat menyebabkan ketidak akuratan karena sel saling bertumpuk dan memperbesar terjadinya ketidak akuratan. Apabila koloni terlalu sedikit maka nantinya secara statistik jumlah mikroba yang dihasilkan rendah. Secara statistik yang paling baik adalah kisaran jumlah koloni 30-300. Selain itu jika terdapat koloni kurang dari 30 artinya penceran terlalu tinggi, jika terdapat koloni lebih dari 300 artinya pengenceran terlalu rendah.
(Bettelheim, 2005).

4.      Apakah yang dimaksud dengan ”TNTC atau TBUD” pada pengamatan hitungan cawan? Dan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jelaskan!
TNTC adalah kependekan dari Too Numerous To Count dan TBUD adalah kependekan dari  Terlalu Banyak Untuk Dihitung. Maksudnya adalah jumlah koloni yang dihitung terlalu banyak, melebihi 300 koloni sehingga sulit untuk dihitung. TNTC atau TBUD terjadi karena penceran yang dilakukan rendah, sehingga menyebabkan jumlah koloni sangat banyak dan bertumpuk sehingga kesulitan untuk dihitung (Bettelheim, 2005).

5.      Berikut ini data hasil plating dari sampel kefir de carrota pada media MRSA. Hitung jumlah koloni berdasarkan metode SPC!

Sampel Ke-
Jumlah koloni Pada Pengenceran
10-4
10-5
10-6
1
TBUD
305
89
2
TBUD
248
82
3
189
52
21
4
TBUD
TBUD
23
5
18
7
0

Hitung berapa jumlah koloni per mL nya berdasarkan aturan SPC. Tuliskan tahapan penghitungan anda!

1.      Pengenceran yang diambil adalah pengenceran 10-6 karena pada pengenceran tersebut menghasilkan jumlah koloni kisaran 30-300
Jumlah koloni per ml = 8,9 x 107 CFU per ml

2.      Karena pada dua pengenceran tersebut diperoleh jumlah koloni kisaran 30-300 maka menggunakan rumus. Apabila hasilnya kurang dari 2 maka diambil rata-rata. Apabila hasilnya lebih dari 2 maka diambil pengenceran terendah.
Jadi, Jumlah koloni per ml = 2,48 x 107 CFU per ml 
                                        = 2,5 x 107 CFU per ml


3.      Karena pada dua pengenceran tersebut diperoleh jumlah koloni kisaran 30-300 maka menggunakan rumus. Apabila hasilnya kurang dari 2 maka diambil rata-rata. Apabila hasilnya lebih dari 2 maka diambil pengenceran terendah.
Jadi, Jumlah koloni per ml = 1,89 x 106 CFU per ml 
                                        = 1,9 x 106 CFU per ml


4.      Karena jumlah koloni kurang dari kisaran 30 dan ada yang TBUD maka yang diambil adalah yang mendekati 30.
Jumlah koloni per ml = 2,3 x 107 CFU per ml

5.      Karena jumlah koloni kurang dari kisaran 30 maka yang diambil adalah yang mendekati 30.
Jumlah koloni per ml = 1,8 x 105 CFU per ml


(Saparianti, 2014).

6.      Mengapa pada analisis hitungan cawan satuan yang digunakan CFU/ml bukan sel per ml? Jelaskan alasan anda!
Karena yang dihitung adalah dalam bentuk koloni bukan sel. CFU sendiri adalah kependekan dari Coloni Forming Unit yang artinya unit koloni yang terbentuk. Pada metode hitungan cawan ini juga tidak mungkin untuk menghitung sel karena metode ini dilakukan dengan mata telanjang atau tanpa bantuan mikroskop sehingga yang tampak adalah berupa koloni. Jadi yang dihitung setiap 1 ml adalah jumlah koloni mikroba.
(Saparianti, 2014).

7.      Bagaimana preparasi sampel untuk menghitung jumlah koloni pada permukaan agar?
a.       Perparasi suspensi sampel dilakukan pada media steril
b.      Suspensi pada sampel diencerkan hingga tingkat pengenceran tertentu, dengan tujuan supaya mikroba dapat dihitung dengan baik
c.       Tiga pengenceran terakhir ditanam pada cawan dengam metode dan media yang telah ditentukan
d.      Jika dilakukan dengan metode spread plate, digunakan mikrotip 0,1 ml.
Jika dilakukan dengan metode pour plate , digunakan mikrotip 1 ml
e.       Diinkubasi pada suhu dan waktu yang sudah ditentukan
f.       Dihitung jumlah koloninya
(Saparianti, 2014).

8.      Bagaimana preparasi sampel untuk menghitung jumlah koloni total/keseluruhan pada sampel makanan padat?
Preparasi untuk sampel padat antara lain:
a.       Sampel padat diambil secara aseptis sebanyak 5 gram
b.      Dilarutkan pada pepton 45 ml kemudian di masukkan plastik
c.       Dihancurkan dengan stomacher
d.      Diambil 1 ml dengan mikrotip yang sudah dipotong miring untuk memudahkan pengambilan sampel
e.       Diencerkan hingga 10-5 dengan 4 tabung
f.       Di platting, ditanam pada media yang sudah di preparasi sebelumnya
g.      Diinkubasi selama 2 hari dengan suhu 280C
(Saparianti, 2014).


9.      Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil penghitungan koloni pada metode hitungan cawan, hingga diperoleh hasil TNTC/TBUD atau koloni tidak muncul?
Faktor yang mempengaruhi hasil penghitungan koloni pada metode hitungan cawan, hingga diperoleh hasil TNTC/TBUD atau koloni tidak muncul antara lain:
     a.       Tingkat pengenceran terlalu tinggi sehingga menyebabkan koloni tidak muncul
    b.      Tingkat pengenceran terlalu rendah sehingga koloni yang muncul terlalu banyak (> 300) sehingga tidak bisa dihitung
     c.       Ketidaksesuaian media yang digunakan
     d.      Adanya kontaminasi. Kontaminasi bisa disebabkan karena alat yang digunakan, lingkungan dan diri yang tidak aseptis
     e.       Kondisi pH dan suhu yang tidak sesuai
(Faridiaz, 2005).

10.  Perhatikan data plating produk susu berikut ini!
Pengenceran
Jumlah Koloni pada
Petri 1
Petri 2
Petri 3
10-1
TNTC
TNTC
TNTC
10-2
630
645
591
10-3
TNTC
TNTC
TNTC
10-4
5
5
8
Hitunglah total mikroorganisme pada sampel susu tersebut (dalam CFU/ml)! Jelaskan modifikasi prosedur yang dapat anda lakukan untuk memperoleh hitungan cawan yang akurat!
Berdasarkan data hasil jumlah koloni yang ada, karena jumlah koloni tidak memenuhi persyaratan maka boleh dihitung dari keduanya.
 Rata-rata dari pengenceran 10-2 = 622 koloni
               Jumlah koloni per ml = 6,2 x 104 CFU per ml
Rata-rata dari pengenceran 10-4 = 6 koloni
Jumlah koloni per ml = 6 x 102 CFU per ml

Jadi, modifikasi prosedur yang dapat dilakukan supaya hitungan cawa akurat adalah meninggikan tingkat pengenceran dan menanam semua pengenceran (Saparianti, 2014).


  
11.  Mengapa pada metode hitungan cawan digunakan media agar? Mengapa dilakukan teknik pengenceran sebelum dilakukan metode plating?
·         Media agar adalah media yang digunakan pada metode pour plate dan spread plate, dimana metode tersebut adalah metode yang cocok untuk hitungan cawan. Dengan menggunakan media agar koloni dapat diamati secara langsung, tanpa bantuan mikroskop
·         Teknik pengenceran dilakukan supaya didapat koloni yang sesuai untuk perhitungan, yaitu kisaran 30-300 koloni. Sehingga bisa dihitung dan hasilnya akurat.
(Fardiaz, 1992).

12.  Mengapa suhu inkubasi yang digunakan pada kisaran suhu tertentu? Apa akibatnya jika suhu inkubasi dinaikkan atau diturunkan dari suhu semula?
Suhu inkubasi yang digunakan pada kisaran suhu tertentu karena setiap mikroba memiliki karakteristik suhu yang berbeda-beda untuk tetap hidup dan berkembang biak. Suhu inkubasi sendiri ditentukan dari suhu optimum pertumbuhan mikroba supaya mikroba dapat tumbuh dengan baik. Sehingga apabila suhu inkubasi dinaikkan atau diturunkan dari suhu semula maka akan mengganggu pertumbuhan mikroba bahkan menyebabkan kematian pada mikroba tersebut karena lingkungan tidak lagi sesuai dengan karakteristiknya (Fardiaz, 1992).




 mohon maaf apabila ada kesalahan dalam laporan ini

0 komentar:

Template by:

Free Blog Templates