Sabtu, 31 Januari 2015

Jika memang pertemuan kita berawal dari sebuah rapat kecil di tempat mainstream yang sama sekali tidak istimewa, apakah itu suatu kebetulan?
Jika memang keakraban kita hanya berawal dari obrolan ringan yang kemudian menciptakan sebuah kesan sehingga timbullah sebuah perasaan, apakah itu juga suatu kebetulan? Atau memang kita memiliki kesatuan?
Kemudian ketika perasaan tersebut saling menyatu membentuk suatu keutuhan, apa aku bisa menyebutnya sebagai kesempatan?
Lantas apakah kesempatan sekarang bukan lagi milik kita?

Bukankah sebuah pertemuan adalah suatu kesempatan?
Bukankah menjatuhkan sebuah perasaan itu adalah sebuah pilihan?
Lalu, bukankah setiap pilihan memiliki alasan?
Kemudian, apakah alasan yang menjadi dasar untuk menjatuhkan suatu pilihan tidak mampu lagi untuk membuat sang perasaan bertahan?

Alasan untuk yang satu ini memang bersadarkan perasaan bukan berdasar dari sumber literatur terpercaya sepuluh tahun terakhir. Lantas ketika perasaan itu berubah apakah sang alasan juga turut serta untuk berubah?

0 komentar:

Template by:

Free Blog Templates